Perlu kita ketahui apa yang dimaksud dengan nafsu. Saat
mendengar kata nafsu, tentu terbesit di benak kita tentang perihal yang buruk,
karena kebanyakan dari kita mengartikan nafsu itu dari sudut negatif. Akan tetapi, jangan langsung kita simpulkan segala bentuk
nafsu itu negatif. Nafsu merupakan suatu keinginan manusia
kepada sesuatu. Pada dasarnya wajar setiap manusia memiliki keinginan akan
sesuatu selama tidak bertentangan dengan perintah Allah Swt. beberapa nafsu
juga ada yang menjadi nafsu positif. Namun ketika ini sedikit sekali orang yang
manggunakan nafsunya untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Padahal jika nafsu
digunakan dengan baik, bisa mengubah hati manusia dari keruh menjadi sangat
jernih.
Para ulama tasawuf berpandangan bahwa, untuk peningkatan jiwa manusia dari
tingkat rendah ke tingkat tinggi dan sempurna harus melalui/martabat nafsu,
yaitu Nafsu Ammarah, Nafsu Lawwamah, Nafsu Mulhamah, Nafsu Muthmainnah, Nafsu
Radhiyah, Nafsu Mardhiyah dan Nafsu Kamilah.
Dari ketujuh jenis nafsu tersebut, terdapat beberapa nafsu yang justu
membawa kita kepada suatu hal yang positif. Salah satunya yaitu Nafsu Muthmainnah.
Kata “Muthmainnah” tentu sangat tidak asing terdengar di telinga kita, karena
kata ini berasal dari Al-qur’an dan tentu di lingkungan sekitar masyarakat pula
ada yang memiliki nama “Muthmainnah”. Dalam Al-qur’an dicantumkan pada surah
Al-Fajr/89 : 27 tentang pengertian dari kata Muthmainnah:
يَا أَيتها النفسُ المطمئنةُ.
“Wahai jiwa-jiwa yang tenang”. (Q.S Al-Fajr/89 : 27)
Dari ayat
tersebut, kata Muthmainnah sendiri memiliki arti yaitu jiwa yang tenang. Yang namanya ketenangan jiwa tentu sangat
dibutuhkan oleh manusia. ketenangan jiwa merupakan kondisi kejiwaan manusia
yang beriman kepada Allah dan berpegang pada ajaran Tauhid. Jadi, Nafsu
muthmainnah adalah jiwa yang telah mendapat ketenangan, telah sanggup untuk
menerima cahaya kebenaran sang ilahi. Serta jiwa yang telah mampu menolak untuk
menikmati kemewahan dunia dan tidak bisa dipengaruhi oleh hal tersebut. Dan
juga merupakan Jiwa yang telah digembleng
oleh pengalaman dan penderitaan. Jiwa yang telah melalui berbagai jalan
berliku, sehingga tidak mengeluh lagi ketika mendaki, karena di balik pendakian
pasti ada penurunan. Dan tidak gembira melonjak lagi ketika menurun, karena
sudah tahu pasti bahwa dibalik penurunan akan bertemu lagi pendakian. Itulah
jiwa yang telah mencapai Iman. Karena telah matang oleh berbagai percobaan.
Sebutan
nafsu yang tenang ini adalah Nafsu Muthmainnah yang saat dikembalikan pada
Tuhannya dalam keadaan ridho dan diridhoi. Mereka adalah orang-orang yang
senantiasa dzikir pada Allah seperti yang dituturkan oleh Nabi Muhammad
Saw., “Mendahului orang-orang yang
tersendiri yang selalu mengikat nafsunya dengan dzikir pada Allah, dzikir
mereka jadikan sebagai pakaian, maka saat mendatangi hari Qiyamat mereka dalam
keadaan ringan-ringan” (HR Turmudzi).
“Perkataan
ini disampaikan saat jiwa yang tenang tersebut kembali pada Tuhannya dan saat
di hari Qiyamat, seperti halnya para malaikat yang memberikan kebahagiaan pada
para mukmin saat ia menghadap Tuhannya dan dibangkitkan dari kuburnya”.
Dalam tafsir Imam At-Tabari disebutkan, dalam ayat ini Allah Swt.
menjelaskan tentang perkataan malaikat kepada para walinya di hari kiamat,
“Wahai Jiwa yang tenang!”. Maknanya, jiwa yang yakin dan mempercayai janji
Allah Swt. yang telah dijanjikan-Nya bagi orang beriman di dunia, berupa
kemuliaan di akhirat.
Perkataan
Hasan Al-Bishri tentang muthmainnah ini: “Apabila Tuhan Allah berkehendak
mengambil nyawa hamba-Nya yang beriman, tenteramlah jiwanya terhadap Allah, dan
tenteram pula Allah terhadapnya.”
Telah berkata pula
sahabat Rasulullah SAW ‘Amr bin Al-‘Ash (Hadis mauquf): “Apabila seorang hamba
yang beriman akan meninggal, diutus Tuhan kepadanya dua orang malaikat, dan
dikirim beserta keduanya suatu bingkisan dari dalam surga. Lalu kedua malaikat
itu menyampaikan sesuatu, katanya: “Keluarlah, wahai jiwa yang telah mencapai
keternteramannya, dengan ridha dan diridhai Allah. Keluarlah kepada Roh dan
Raihan. Tuhan senang kepadamu, Tuhan tidak marah kepadamu.” Maka keluarlah Roh
itu, lebih harum dari kasturi.”
Dari perkataan-perkataan
para ulama di atas, dapat kita simpulkan bahwa ayat-ayat ini adalah di antara
ayat yang memberitakan kabar gembira kepada orang-orang Mukmin dan beramal
shalih yang tetap istiqomah hingga akhir hayatnya. Merekalah yang mendapatkan
kehormatan berupa sebutan: an-nafs al-muthmainnah. Sebutan tersebut
benar-benar sesuai dengan keadaan dan realitas mereka, terutama pada Hari
Kiamat kelak. Pada saat orang-orang kafir dan para pelaku kemaksiatan merasakan
ketakutakan luar biasa ketika datangnya Hari Kiamat yang memang mengerikan,
mereka justru dijamin keamanannya. Mereka tidak perlu takut dan khawatir.
Bahkan mereka dipanggil dengan panggilan yang amat lembut: Yâ ayyatuhâ
an-nafs al-muthaminnah (Wahai jiwa yang tenang lagi
tenteram).
Nafsu muthmainnah ini juga sebagai permulaan
mencapai derajar Sufi atau Wali. Orang yang telah mencapai martabat nafsu ini
senantiasa merasa hatinya seolah-seolah berada bersama Allah Swt.
Di antara sifat-sifat keruhanian yang timbul dari
Nafsu Muthmainnah adalah :
a.
Tawakkal
Orang yang
mencapai nafsu muthmainnah senantiasa menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada
Allah. Ia sedikit pun tidak gundah, gelisah dan berputus asa bila tertimpa
musibah, dan tidak pula terlalu bersuka cita bila mendapatkan kebahagiaan,
sebab semuanya itu telah digariskan oleh Allah SWT sebelum musibah itu menimpa
dirinya bahkan sebelum dirinya diciptakan. Allah Swt. berfirman :
Artinya : “Tidak ada satu musibah yang menimpa
seorang, kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah,
niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”. (QS. At-Taghabun : 11)
b.
Kuat beramal
Ia selalu
merasa rindu untuk berbuat kebaikan (muthmainnah insan) yakni rasa tentram
ketika melaksanakan perintah Allah dengan hati yang ikhlas dan tulus. Ia tidak
melaksanakan perintah Allah atas dasar kemauan hawa nafsunya sendiri atau
bertaklid secara buta. Ia tidak menyediakan ruang hatinya bagi suatu keraguan
(syubhat) yang dapat mempengaruhi berita-berita dari Allah, Atau syubhat yang
dapat menghalangi jalan menuju perintah-Nya.
c.
Kekal mengerjakan sholat
Orang yang
telah mencapai martabat ini senantiasa menunggu datangnya waktu untuk beribadah
kepada Allah. Mereka ini disebut sebagai penggembala matahari karena senantiasa
menunggu waktu sholat.
d.
Takut dengan dosa
Bagi orang yang
telah mencapai nafsu muthmainnah, ia selalu gelisah terhadap perbuatannya yang
buruk. Walaupun pebuatan buruk yang kecil, tetapi sudah dianggapnya besar,
seolah-olah dosa yang diakibatkan dari perbuatanya itu bagaikan gunung yang
siap menimpa kepalanya. Dengan tenang ia segera bertobat kepada Allah.
e.
Menghargai dan menghormati waktu
Baginya, waktu
adalah modal dasar kebahagiaan. Ia akan menjadi orang yang menghemat waktu,
menggunakan waktu seefisien mungkin dan seefektif mungkin dan menggunakan lebih
banyak waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Tentunya masih
banyak sifat mulia lain yang timbul dari nafsu muthmainnah. Yang pokok dari
semua itu adalah Yaqadzah yang merupakan titik awal dari tingkatan nafsu
muthmainah yakni kesadaran jiwa yang tinggi dan respektif terhadap setiap
gejolak-gejolak jiwanya, yang akan menyingkap tabir kealpaan hatinya selama
bertahun-tahun, dan menyinarinya dengan pantulan cahaya surgawi.
Setelah
mencapai puncak kesadaran seperti itu, ia seakan melihat apa yang telah disediakan
roda kehidupan ini, tanpa memberi kesempatan terhadap mereka yang ingin
memperbaiki kesalahan-kesalahannya. Di saat kesadaran ini timbul, ia akan
bangkit dan berkata :
Artinya : “…Aku menyesal atas kelalaianku dalam
(menunaikan) kewajiban terhadap Allah”. (QS. Az-Zumar : 56)
Sesungguhnya
bagi mereka yang telah berjaya bertapak di martabat mutmainnah ini, tidaklah
seharusnya mereka berpuas hati dengan syurga yang bakal diperolehinya,
sedangkan Rasulullah SAW yang dijaminkan syurga tetap meneruskan amal ibadah
dan kebaktian kepada Allah SWT. Baginda
tetap berzikir kepada Tuhannya, menyucikan dirinya (sedangkan umum mengetahui
baginda SAW maksum dari dosa) dengan zikir dan istighfar yang berpanjangan.
Oleh itu, bagi manusia biasa walaupun telah sampai ke martabat mutmainnah,
namun mereka mestilah berusaha lagi, beramal dengan
petua yang diberi oleh gurunya sehingga tercapailah pula martabat nafsu yang
lebih mulia iaitu martabat nafsu Radhiah.
Daftar Pustaka
Ihyaa ‘Ulumuddin IV/43
Tafsir Ibnu Katsir VIII/400
Tafsir At-Tabari. Jilid XXIV. 2001 : 393-400
Faried Ahmad. 1999. Menyucikan Jiwa : Konsep Ulama Salaf.
Risalah Gusti


Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus