Senin, 16 April 2018

Nafsu Muthmainnah

Edit Posted by with 1 comment



Perlu kita ketahui apa yang dimaksud dengan nafsu. Saat mendengar kata nafsu, tentu terbesit di benak kita tentang perihal yang buruk, karena kebanyakan dari kita mengartikan nafsu itu dari sudut negatif. Akan tetapi, jangan langsung kita simpulkan segala bentuk nafsu itu negatif. Nafsu merupakan suatu keinginan manusia kepada sesuatu. Pada dasarnya wajar setiap manusia memiliki keinginan akan sesuatu selama tidak bertentangan dengan perintah Allah Swt. beberapa nafsu juga ada yang menjadi nafsu positif. Namun ketika ini sedikit sekali orang yang manggunakan nafsunya untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Padahal jika nafsu digunakan dengan baik, bisa mengubah hati manusia dari keruh menjadi sangat jernih.
Para ulama tasawuf berpandangan bahwa, untuk peningkatan jiwa manusia dari tingkat rendah ke tingkat tinggi dan sempurna harus melalui/martabat nafsu, yaitu Nafsu Ammarah, Nafsu Lawwamah, Nafsu Mulhamah, Nafsu Muthmainnah, Nafsu Radhiyah, Nafsu Mardhiyah dan Nafsu Kamilah.
Dari ketujuh jenis nafsu tersebut, terdapat beberapa nafsu yang justu membawa kita kepada suatu hal yang positif. Salah satunya yaitu Nafsu Muthmainnah. Kata “Muthmainnah” tentu sangat tidak asing terdengar di telinga kita, karena kata ini berasal dari Al-qur’an dan tentu di lingkungan sekitar masyarakat pula ada yang memiliki nama “Muthmainnah”. Dalam Al-qur’an dicantumkan pada surah Al-Fajr/89 : 27 tentang pengertian dari kata Muthmainnah:
يَا أَيتها النفسُ المطمئنةُ.
“Wahai jiwa-jiwa yang tenang”. (Q.S Al-Fajr/89 : 27)
Dari ayat tersebut, kata Muthmainnah sendiri memiliki arti yaitu jiwa yang tenang.  Yang namanya ketenangan jiwa tentu sangat dibutuhkan oleh manusia. ketenangan jiwa merupakan kondisi kejiwaan manusia yang beriman kepada Allah dan berpegang pada ajaran Tauhid. Jadi, Nafsu muthmainnah adalah jiwa yang telah mendapat ketenangan, telah sanggup untuk menerima cahaya kebenaran sang ilahi. Serta jiwa yang telah mampu menolak untuk menikmati kemewahan dunia dan tidak bisa dipengaruhi oleh hal tersebut. Dan juga merupakan Jiwa yang telah digembleng oleh pengalaman dan penderitaan. Jiwa yang telah melalui berbagai jalan berliku, sehingga tidak mengeluh lagi ketika mendaki, karena di balik pendakian pasti ada penurunan. Dan tidak gembira melonjak lagi ketika menurun, karena sudah tahu pasti bahwa dibalik penurunan akan bertemu lagi pendakian. Itulah jiwa yang telah mencapai Iman. Karena telah matang oleh berbagai percobaan.
Sebutan nafsu yang tenang ini adalah Nafsu Muthmainnah yang saat dikembalikan pada Tuhannya dalam keadaan ridho dan diridhoi. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa dzikir pada Allah seperti yang dituturkan oleh Nabi Muhammad Saw.,  “Mendahului orang-orang yang tersendiri yang selalu mengikat nafsunya dengan dzikir pada Allah, dzikir mereka jadikan sebagai pakaian, maka saat mendatangi hari Qiyamat mereka dalam keadaan ringan-ringan” (HR Turmudzi).
            “Perkataan ini disampaikan saat jiwa yang tenang tersebut kembali pada Tuhannya dan saat di hari Qiyamat, seperti halnya para malaikat yang memberikan kebahagiaan pada para mukmin saat ia menghadap Tuhannya dan dibangkitkan dari kuburnya”.
Dalam tafsir Imam At-Tabari disebutkan, dalam ayat ini Allah Swt. menjelaskan tentang perkataan malaikat kepada para walinya di hari kiamat, “Wahai Jiwa yang tenang!”. Maknanya, jiwa yang yakin dan mempercayai janji Allah Swt. yang telah dijanjikan-Nya bagi orang beriman di dunia, berupa kemuliaan di akhirat.
Perkataan Hasan Al-Bishri tentang muthmainnah ini: “Apabila Tuhan Allah berkehendak mengambil nyawa hamba-Nya yang beriman, tenteramlah jiwanya terhadap Allah, dan tenteram pula Allah terhadapnya.”
Telah berkata pula sahabat Rasulullah SAW ‘Amr bin Al-‘Ash (Hadis mauquf): “Apabila seorang hamba yang beriman akan meninggal, diutus Tuhan kepadanya dua orang malaikat, dan dikirim beserta keduanya suatu bingkisan dari dalam surga. Lalu kedua malaikat itu menyampaikan sesuatu, katanya: “Keluarlah, wahai jiwa yang telah mencapai keternteramannya, dengan ridha dan diridhai Allah. Keluarlah kepada Roh dan Raihan. Tuhan senang kepadamu, Tuhan tidak marah kepadamu.” Maka keluarlah Roh itu, lebih harum dari kasturi.”
Dari perkataan-perkataan para ulama di atas, dapat kita simpulkan bahwa ayat-ayat ini adalah di antara ayat yang memberitakan kabar gembira kepada orang-orang Mukmin dan beramal shalih yang tetap istiqomah hingga akhir hayatnya. Merekalah yang mendapatkan kehormatan berupa sebutan: an-nafs al-muthmainnah. Sebutan tersebut benar-benar sesuai dengan keadaan dan realitas mereka, terutama pada Hari Kiamat kelak. Pada saat orang-orang kafir dan para pelaku kemaksiatan merasakan ketakutakan luar biasa ketika datangnya Hari Kiamat yang memang mengerikan, mereka justru dijamin keamanannya. Mereka tidak perlu takut dan khawatir. Bahkan mereka dipanggil dengan panggilan yang amat lembut: Yâ ayyatuhâ an-nafs al-muthaminnah (Wahai jiwa yang tenang lagi tenteram).
Nafsu muthmainnah ini juga sebagai permulaan mencapai derajar Sufi atau Wali. Orang yang telah mencapai martabat nafsu ini senantiasa merasa hatinya seolah-seolah berada bersama Allah Swt.
Di antara sifat-sifat keruhanian yang timbul dari Nafsu Muthmainnah adalah :

a.       Tawakkal
Orang yang mencapai nafsu muthmainnah senantiasa menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah. Ia sedikit pun tidak gundah, gelisah dan berputus asa bila tertimpa musibah, dan tidak pula terlalu bersuka cita bila mendapatkan kebahagiaan, sebab semuanya itu telah digariskan oleh Allah SWT sebelum musibah itu menimpa dirinya bahkan sebelum dirinya diciptakan. Allah Swt. berfirman :
Artinya : “Tidak ada satu musibah yang menimpa seorang, kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”. (QS. At-Taghabun : 11)
b.      Kuat beramal
Ia selalu merasa rindu untuk berbuat kebaikan (muthmainnah insan) yakni rasa tentram ketika melaksanakan perintah Allah dengan hati yang ikhlas dan tulus. Ia tidak melaksanakan perintah Allah atas dasar kemauan hawa nafsunya sendiri atau bertaklid secara buta. Ia tidak menyediakan ruang hatinya bagi suatu keraguan (syubhat) yang dapat mempengaruhi berita-berita dari Allah, Atau syubhat yang dapat menghalangi jalan menuju perintah-Nya.
c.       Kekal mengerjakan sholat
Orang yang telah mencapai martabat ini senantiasa menunggu datangnya waktu untuk beribadah kepada Allah. Mereka ini disebut sebagai penggembala matahari karena senantiasa menunggu waktu sholat.
d.      Takut dengan dosa
Bagi orang yang telah mencapai nafsu muthmainnah, ia selalu gelisah terhadap perbuatannya yang buruk. Walaupun pebuatan buruk yang kecil, tetapi sudah dianggapnya besar, seolah-olah dosa yang diakibatkan dari perbuatanya itu bagaikan gunung yang siap menimpa kepalanya. Dengan tenang ia segera bertobat kepada Allah.
e.       Menghargai dan menghormati waktu
Baginya, waktu adalah modal dasar kebahagiaan. Ia akan menjadi orang yang menghemat waktu, menggunakan waktu seefisien mungkin dan seefektif mungkin dan menggunakan lebih banyak waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Tentunya masih banyak sifat mulia lain yang timbul dari nafsu muthmainnah. Yang pokok dari semua itu adalah Yaqadzah yang merupakan titik awal dari tingkatan nafsu muthmainah yakni kesadaran jiwa yang tinggi dan respektif terhadap setiap gejolak-gejolak jiwanya, yang akan menyingkap tabir kealpaan hatinya selama bertahun-tahun, dan menyinarinya dengan pantulan cahaya surgawi.
Setelah mencapai puncak kesadaran seperti itu, ia seakan melihat apa yang telah disediakan roda kehidupan ini, tanpa memberi kesempatan terhadap mereka yang ingin memperbaiki kesalahan-kesalahannya. Di saat kesadaran ini timbul, ia akan bangkit dan berkata :
Artinya : “…Aku menyesal atas kelalaianku dalam (menunaikan) kewajiban terhadap Allah”. (QS. Az-Zumar : 56)
Sesungguhnya bagi mereka yang telah berjaya bertapak di martabat mutmainnah ini, tidaklah seharusnya mereka berpuas hati dengan syurga yang bakal diperolehinya, sedangkan Rasulullah SAW yang dijaminkan syurga tetap meneruskan amal ibadah dan kebaktian kepada Allah SWT. Baginda tetap berzikir kepada Tuhannya, menyucikan dirinya (sedangkan umum mengetahui baginda SAW maksum dari dosa) dengan zikir dan istighfar yang berpanjangan. Oleh itu, bagi manusia biasa walaupun telah sampai ke martabat mutmainnah, namun mereka mestilah berusaha lagi, beramal dengan petua yang diberi oleh gurunya sehingga tercapailah pula martabat nafsu yang lebih mulia iaitu martabat nafsu Radhiah.
Daftar Pustaka
Ihyaa ‘Ulumuddin IV/43
Tafsir Ibnu Katsir VIII/400
Tafsir At-Tabari. Jilid XXIV. 2001 : 393-400
Nafsu Muthmainnah. 17/06/12. Diakses pada 22/12/17. <  https://alqohwah.wordpress.com  >
Faried Ahmad. 1999. Menyucikan Jiwa : Konsep Ulama Salaf. Risalah Gusti


1 komentar: