(No Poverty)
Kemiskinan
masih menjadi salah satu problem di berbagai penjuru dunia, terutama di negara
yang masih berstatus sebagai negara berkembang. Bahkan di beberapa negara maju
pun masih terdapat persoalan tentang kemiskinan yang belum juga dapat
terselesaikan. Kemiskinan menjadi tujuan pertama dalam SDGs karena kemiskinan
merupakan problem sosial yang berkenaan dengan faktor ekonomi, objeknya
langsung kepada masyarakat. Kemiskinanpun telah menjadi permasalahan
multidimensi. Oleh karena itu dalam SDGs, no poverty (tanpa kemiskinan)
menjadi poin pertama prioritas. Karena dijadikan sebagai prioritas, dalam arti
dunia bersepakat untuk meniadakan kemiskinan dalam bentuk apapun di seluruh
penjuru dunia. Pengentasan kemiskinan ini akan sangat terkait dengan tujuan
pembangunan global lainnya, yaitu dunia tanpa kelaparan, kesehatan dan
kesejahteraan yang baik, pendidikan berkualitas, dan seterusnya hingga poin
terakhir tentang kemitraan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Baru-baru
ini Bank Dunia mengapresiasi presentase angka kemiskinan di Indonesia yang
menurun yaitu 10,64% yang pada tahun lalu sebesar 10,70%. Walaupun presentase
secara angka menurun, tetapi pada nyatanya dalam kehidupan jumlah kemiskinan
malah semakin bertambah. Saat pemerintah dan masyarakat bersama-sama
berjuang ingin memberantas kemiskinan sama halnya dengan berjuang seumur hidup,
karena fakta yang ada mengatakan bahwa persoalan kemiskinan tidak akan pernah
tuntas. Begitu banyak peran pemerintah turun tangan memberi pertolongan dalam
masalah kemiskinan, lembaga-lembaga sosial pun telah ikut menyerahkan bantuan
untuk meminimalisir permasalahan ini, bahkan individu (orang) yang memiliki
harta lebih (kaya) juga ikut menyumbangkan bebagai macam materi. Telah banyak
program-program sosial maupun kesehatan bahkan progam pendidikan untuk
masyarakat miskin. Tetapi tetap saja permasalahan ini tidak dapat
terselesaikan, justru semakin menyebar luas. Ketika mendengar kata “kemiskinan”
tentu pemikiran kita tertuju kepada suatu keadaan yang serba kekurangan,
pengamen jalanan, pengemis, pemulung dan orang-orang yang berjualan di
persimpangan lampu merah. Secara umum, pengertian kemiskinan adalah suatu
keadaan di mana terjadinya ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok
sandang (pakaian), pangan (makanan), papan (tempat berlindung), kesehatan dan
pendidikan. Kemiskinan bisa dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kemiskinan
absolut dan kemiskinan relatif. Yang dimaksud dengan kemiskinan absolut
(mutlak) adalah kemiskinan yang disebabkan karena tingkat pendapatan yang tidak
memadai dalam kebutuhan hidup. Sedangkan kemiskinan relatif adalah kemiskinan
yang sebagian besar disebabkan karena keadaan lingkungan sekitar. Beberapa
penyebab dari kemiskinan secara umum yaitu, kurangnya lapangan pekerjaan, biaya
kehidupan yang tinggi, merosotnya standar perkembangan pendapatan per-kapita
secara global, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, kurangnya SDA (Sumber
Daya Alam), masyarakat tidak mampu bersaing dalam MEA (Masyarakat Ekonomi
Asean) karena ketidakmampuan untuk
bersuara dan ketiadaan kekuatan didepan institusi negara dan masyarakat,
rentan terhadap guncangan ekonomi terkait dengan ketidakmampuan
menanggulanginya.
Menurut
ILO, (International Labour Organization) menyatakan bahwa dengan perluasan
kesempatan kerja akan dibarengi dengan menurunnya kemiskinan, semua itu akan
terwujud jika tingkat gaji atau bayaran bagi setiap tenaga kerja juga sesuai
bahkan meningkat. Saat memperoleh pendapatan merupakan bentuk hubungan antara
ketenagakerjaan dan kemiskinan. Pendapatan yang diperoleh tentu dapat diukur
dengan cukup atau tidaknya kebutuhan sehari-hari dari seorang pekerja. Solusi berkaitan dengan perluasan
kesempatan kerja memang paling efektif, seiring dengan adanya lapangan
pekerjaan serta kesempatan kerja akan dapat setidaknya meminimalisir
kemiskinan, tetapi tentu dengan gaji yang cukup untuk kebutuhan setiap harinya.
Strategi penanganan kemiskinan
dalam perspektif pekerjaan sosial terfokus pada
peningkatan keberfungsian sosial si miskin (dalam arti individu dan
kelompok) dalam kaitannya dengan konteks lingkungan dan sistuasi sosial.
Dianalogikan dengan strategi pemberian ikan dan kail, maka strategi pengentasan
kemiskinan tidak hanya bermatra individual.
Sumodiningrat (1998)
juga berpendapat, untuk menanggulangi
masalah kemiskinan harus dipilih strategi yang dapat memperkuat peran dan
posisi perekonomian rakyat dalam perekonomian nasional, sehingga terjadi
perubahan struktural yang meliputi pengalokasian sumber daya, penguatan
kelembagaan, pemberdayaan sumber daya manusia. Solusi yang dicantumkan ini
lebih condong kepada bagaimana cara masyarakat agar mampu bersaing dalam
perekonomian nasional maupun internasional.
Islam memandang bahwa masalah kemiskinan adalah
masalah yang tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan primer secara menyeluruh.
Syari’at Islam telah menentukan kebutuhan primer itu (yang menyangkut
eksistensi manusia) berupa tiga hal, yaitu sandang, pangan, dan papan.
Al-Qur’an sebagai petunjuk sekali lagi tidak membiarkan manusia mencari harta
menurut cara dan kehendaknya sendiri yang dapat benar dan dapat menyimpang,
melainkan memberinya petunjuk atau pedoman bagaimana harta itu seyogyanya
dicari cara yang bagaimana yang dibenarkan dan cara apa pula yang dilarang.
Secara garis besar, proses manusia di dalam memperoleh harta itu dapat
dibedakan kepada dua jalan, yaitu melalui pemberian pihak lain dan melalui
usaha atau kerja. Cara yang paling utama untuk memperoleh harta, menurut Islam
adalah usaha atau kerja. Baik dalam Al-Qur’an maupun al-Sunnah terdapat
pernyataan tentang keharusan dan keutamaan bekerja. Dalam surah al-Jumu’ah ayat
10, Allah menyuruh manusia menyebar di muka bumi dan bekerja mencari rezeki
melalui usaha dagang. Islam sangat menganjurkan kerja. Islam anti pengangguran
dan tidak menyukai perbuatan meminta-minta atau menunggu pemberian orang lain.
Islam sungguh membawa ajaran tentang etos kerja yang sangat tinggi.
Antara
kemiskinan berdasarkan ilmu pengetahuan dan kemiskinan menurut agama tidak
memiliki banyak perbedaan. Terdapat banyak persamaan yang ditemukan, salah
satunya mengenai perintah untuk bekerja. Karena bekerja merupakan usaha
seseorang yang berupa senjata paling ampuh untuk mengentaskan kemiskinan di
dunia. Selain dari bekerja, pemerintah juga ikut turut membantu dengan memperdulikan
masyarakat yang dilanda kemiskinan. Letak perbedaannya yaitu kemiskinan menurut
perspektif agama islam dibarengi dengan berbagai dalil dari Al-Qur’an. Sedangkan
kemiskinan berdasarkan ilmu pengetahuan berlandaskan pada pemikiran logika dan
fakta yang ada serta tolak ukur dari kemiskinan menurut ilmu pengetahuan yaitu
berdasarkan materi. Alangkah baiknya apabila kedua pendapat tersebut
dikolaborasikan menjadi satu, dengan adanya solusi berdasarkan perspektif ilmu
pengetahuan yang dicantumkan akan semakin diperkuat dengan adanya dalil-dalil
naqli.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an ( Q.S Al-Jumu’ah : 10)
Edi
Suharto. Phd. Konsep Kemiskinan dan Strategi Penanggulangannya.
Badan
Pusat Statistik (BPS-Statistics Indonesia).
Jamaroh Surya A. 2008. Harta dalam Perspektif
Al-Qur’an. Bandung: Angkasa.


0 komentar:
Posting Komentar