Selasa, 03 April 2018

Tidak Ada Kemiskinan (SDGs)

Edit Posted by with No comments

TIDAK ADA KEMISKINAN
(No Poverty)
Kemiskinan masih menjadi salah satu problem di berbagai penjuru dunia, terutama di negara yang masih berstatus sebagai negara berkembang. Bahkan di beberapa negara maju pun masih terdapat persoalan tentang kemiskinan yang belum juga dapat terselesaikan. Kemiskinan menjadi tujuan pertama dalam SDGs karena kemiskinan merupakan problem sosial yang berkenaan dengan faktor ekonomi, objeknya langsung kepada masyarakat. Kemiskinanpun telah menjadi permasalahan multidimensi. Oleh karena itu dalam SDGs, no poverty (tanpa kemiskinan) menjadi poin pertama prioritas. Karena dijadikan sebagai prioritas, dalam arti dunia bersepakat untuk meniadakan kemiskinan dalam bentuk apapun di seluruh penjuru dunia. Pengentasan kemiskinan ini akan sangat terkait dengan tujuan pembangunan global lainnya, yaitu dunia tanpa kelaparan, kesehatan dan kesejahteraan yang baik, pendidikan berkualitas, dan seterusnya hingga poin terakhir tentang kemitraan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Baru-baru ini Bank Dunia mengapresiasi presentase angka kemiskinan di Indonesia yang menurun yaitu 10,64% yang pada tahun lalu sebesar 10,70%. Walaupun presentase secara angka menurun, tetapi pada nyatanya dalam kehidupan jumlah kemiskinan malah semakin bertambah.  Saat pemerintah dan masyarakat bersama-sama berjuang ingin memberantas kemiskinan sama halnya dengan berjuang seumur hidup, karena fakta yang ada mengatakan bahwa persoalan kemiskinan tidak akan pernah tuntas. Begitu banyak peran pemerintah turun tangan memberi pertolongan dalam masalah kemiskinan, lembaga-lembaga sosial pun telah ikut menyerahkan bantuan untuk meminimalisir permasalahan ini, bahkan individu (orang) yang memiliki harta lebih (kaya) juga ikut menyumbangkan bebagai macam materi. Telah banyak program-program sosial maupun kesehatan bahkan progam pendidikan untuk masyarakat miskin. Tetapi tetap saja permasalahan ini tidak dapat terselesaikan, justru semakin menyebar luas. Ketika mendengar kata “kemiskinan” tentu pemikiran kita tertuju kepada suatu keadaan yang serba kekurangan, pengamen jalanan, pengemis, pemulung dan orang-orang yang berjualan di persimpangan lampu merah. Secara umum, pengertian kemiskinan adalah suatu keadaan di mana terjadinya ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok sandang (pakaian), pangan (makanan), papan (tempat berlindung), kesehatan dan pendidikan. Kemiskinan bisa dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Yang dimaksud dengan kemiskinan absolut (mutlak) adalah kemiskinan yang disebabkan karena tingkat pendapatan yang tidak memadai dalam kebutuhan hidup. Sedangkan kemiskinan relatif adalah kemiskinan yang sebagian besar disebabkan karena keadaan lingkungan sekitar. Beberapa penyebab dari kemiskinan secara umum yaitu, kurangnya lapangan pekerjaan, biaya kehidupan yang tinggi, merosotnya standar perkembangan pendapatan per-kapita secara global, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, kurangnya SDA (Sumber Daya Alam), masyarakat tidak mampu bersaing dalam MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) karena  ketidakmampuan untuk bersuara dan ketiadaan kekuatan didepan institusi negara dan masyarakat, rentan terhadap guncangan ekonomi terkait dengan ketidakmampuan menanggulanginya. 
Menurut ILO, (International Labour Organization) menyatakan bahwa dengan perluasan kesempatan kerja akan dibarengi dengan menurunnya kemiskinan, semua itu akan terwujud jika tingkat gaji atau bayaran bagi setiap tenaga kerja juga sesuai bahkan meningkat. Saat memperoleh pendapatan merupakan bentuk hubungan antara ketenagakerjaan dan kemiskinan. Pendapatan yang diperoleh tentu dapat diukur dengan cukup atau tidaknya kebutuhan sehari-hari dari seorang pekerja. Solusi berkaitan dengan perluasan kesempatan kerja memang paling efektif, seiring dengan adanya lapangan pekerjaan serta kesempatan kerja akan dapat setidaknya meminimalisir kemiskinan, tetapi tentu dengan gaji yang cukup untuk kebutuhan setiap harinya.
Strategi penanganan kemiskinan dalam perspektif pekerjaan sosial terfokus pada peningkatan keberfungsian sosial si miskin (dalam arti individu dan kelompok) dalam kaitannya dengan konteks lingkungan dan sistuasi sosial. Dianalogikan dengan strategi pemberian ikan dan kail, maka strategi pengentasan kemiskinan tidak hanya bermatra individual.
Sumodiningrat (1998) juga  berpendapat, untuk menanggulangi masalah kemiskinan harus dipilih strategi yang dapat memperkuat peran dan posisi perekonomian rakyat dalam perekonomian nasional, sehingga terjadi perubahan struktural yang meliputi pengalokasian sumber daya, penguatan kelembagaan, pemberdayaan sumber daya manusia. Solusi yang dicantumkan ini lebih condong kepada bagaimana cara masyarakat agar mampu bersaing dalam perekonomian nasional maupun internasional.
Islam memandang bahwa masalah kemiskinan adalah masalah yang tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan primer secara menyeluruh. Syari’at Islam telah menentukan kebutuhan primer itu (yang menyangkut eksistensi manusia) berupa tiga hal, yaitu sandang, pangan, dan papan. Al-Qur’an sebagai petunjuk sekali lagi tidak membiarkan manusia mencari harta menurut cara dan kehendaknya sendiri yang dapat benar dan dapat menyimpang, melainkan memberinya petunjuk atau pedoman bagaimana harta itu seyogyanya dicari cara yang bagaimana yang dibenarkan dan cara apa pula yang dilarang. Secara garis besar, proses manusia di dalam memperoleh harta itu dapat dibedakan kepada dua jalan, yaitu melalui pemberian pihak lain dan melalui usaha atau kerja. Cara yang paling utama untuk memperoleh harta, menurut Islam adalah usaha atau kerja. Baik dalam Al-Qur’an maupun al-Sunnah terdapat pernyataan tentang keharusan dan keutamaan bekerja. Dalam surah al-Jumu’ah ayat 10, Allah menyuruh manusia menyebar di muka bumi dan bekerja mencari rezeki melalui usaha dagang. Islam sangat menganjurkan kerja. Islam anti pengangguran dan tidak menyukai perbuatan meminta-minta atau menunggu pemberian orang lain. Islam sungguh membawa ajaran tentang etos kerja yang sangat tinggi.
 Antara kemiskinan berdasarkan ilmu pengetahuan dan kemiskinan menurut agama tidak memiliki banyak perbedaan. Terdapat banyak persamaan yang ditemukan, salah satunya mengenai perintah untuk bekerja. Karena bekerja merupakan usaha seseorang yang berupa senjata paling ampuh untuk mengentaskan kemiskinan di dunia. Selain dari bekerja, pemerintah juga ikut turut membantu dengan memperdulikan masyarakat yang dilanda kemiskinan. Letak perbedaannya yaitu kemiskinan menurut perspektif agama islam dibarengi dengan berbagai dalil dari Al-Qur’an. Sedangkan kemiskinan berdasarkan ilmu pengetahuan berlandaskan pada pemikiran logika dan fakta yang ada serta tolak ukur dari kemiskinan menurut ilmu pengetahuan yaitu berdasarkan materi. Alangkah baiknya apabila kedua pendapat tersebut dikolaborasikan menjadi satu, dengan adanya solusi berdasarkan perspektif ilmu pengetahuan yang dicantumkan akan semakin diperkuat dengan adanya dalil-dalil naqli.




Daftar Pustaka
Al-Qur’an ( Q.S Al-Jumu’ah : 10)
Edi Suharto. Phd. Konsep Kemiskinan dan Strategi Penanggulangannya.
Badan Pusat Statistik (BPS-Statistics Indonesia).
Jamaroh Surya A. 2008. Harta dalam Perspektif Al-Qur’an. Bandung: Angkasa.

0 komentar:

Posting Komentar